Nah, Ini 5 Ciri Kyai Sejati
30 Juli 2015 Alvian
Iqbal Zahasfan 0 Comment ali mustafa yaqub, buya dimyati banten, istikamah, kyai, kyai sejati, kyai tampil di tv, mengaji, menulis, panutan, teladan, turba, turun ke bawah
Datdut.Com –
Sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan pesantren, saya sempat mengamati
dan menyimpulkan lima kesamaan ciri yang selalu ditemui pada sosok panutan yang
disebut dan digelari di kalangan pesantren sebagai “kyai”. Saya perlu menulis
tentang ini karena sepertinya sudah ada kesalahan cara pandang tentang siapa
orang yang disebut kyai. Orang yang layak disebut kyai bukan yang sekadar
tampil di TV yang dikawal oleh para santri, pakai jubah dan gamis dengan sorban
berlapis-lapis. Kyai adalah gelar yang diberikan masyarakat yang ikhlas tanpa
pamrih. Kyai tidak patut disandang oleh orang yang mengkyaikan dirinya sendiri.
Kyai adalah orang yang punya ciri-ciri berikut ini:
1. Istikamah
Sifat ini bisa dilihat saat beliau-beliau rutin mengajar, tak mau ingkar janji, dan selalu ada di barisan saat salat berjamaah. Nah, ini jadi ciri penting seorang kyai, karena istikamah kata para ulama lebih mulia daripada seribu karamah.
Sifat ini bisa dilihat saat beliau-beliau rutin mengajar, tak mau ingkar janji, dan selalu ada di barisan saat salat berjamaah. Nah, ini jadi ciri penting seorang kyai, karena istikamah kata para ulama lebih mulia daripada seribu karamah.
2. Salat berjamaah
Kyai sejati selalu menjaga bukan hanya salat lima waktu tetapi menjaganya dengan berjamaah. Soal ini persis seperti dikatakan Kyai Buya Dimyati Banten saat ditanya apa tarekat yang diikutinya. “Tarekatku adalah salat berjamaah dan ngaji,” jawabnya.
Kyai sejati selalu menjaga bukan hanya salat lima waktu tetapi menjaganya dengan berjamaah. Soal ini persis seperti dikatakan Kyai Buya Dimyati Banten saat ditanya apa tarekat yang diikutinya. “Tarekatku adalah salat berjamaah dan ngaji,” jawabnya.
3. Mengaji
Selain kebiasaan salat berjamaah, mereka juga mengistikamahkan membaca kitab kuning atau buku hingga tamat alias khatam. Apa yang dilakukan tersebut sebetulnya mengamalkan apa yang menjadi pesan para ulama, “Hayatul ilmu al–murajaah.” Artinya kurang lebih begini: kalau mau ingin ilmunya terus menerangi, caranya ya dengan rajin menelaah.
Selain kebiasaan salat berjamaah, mereka juga mengistikamahkan membaca kitab kuning atau buku hingga tamat alias khatam. Apa yang dilakukan tersebut sebetulnya mengamalkan apa yang menjadi pesan para ulama, “Hayatul ilmu al–murajaah.” Artinya kurang lebih begini: kalau mau ingin ilmunya terus menerangi, caranya ya dengan rajin menelaah.
4. Menulis
Kebanyakan kyai sadar betul betapa pentingnya sebuah karya tulis. Maka mereka selalu menyempatkan menulis artikel, opini, dan buku, bahkan di antara mereka ada yang pandai menulis puisi, narasi drama, dan novel. Pesan Kyai Ali Mustafa Yaqub kepada santri-santrinya yang senantiasa digaungkan dan meresap ke hati mereka adalah “wala tamutunna illa wa antum katibun”. Jangan meninggal sebelum punya karya tulis.
Kebanyakan kyai sadar betul betapa pentingnya sebuah karya tulis. Maka mereka selalu menyempatkan menulis artikel, opini, dan buku, bahkan di antara mereka ada yang pandai menulis puisi, narasi drama, dan novel. Pesan Kyai Ali Mustafa Yaqub kepada santri-santrinya yang senantiasa digaungkan dan meresap ke hati mereka adalah “wala tamutunna illa wa antum katibun”. Jangan meninggal sebelum punya karya tulis.
5. Turba (Turun ke Bawah)
Selain
keistikamahan mengajar, menulis dan ibadah mahdah,
mereka juga istikamah memberdayakan wong cilik atau umat yang tinggal di
sekitar pesantren. Caranya dengan bersinergi menyediakan fasilitas-fasilitas
dan pelatihan-pelatihan keterampilan, usaha, dan pengembangan ekonomi. Gunanya
yang utama, ya ikut menyumbangkan pemecahan masalah umat.
Sebagai
catatan, semua itu dilakukan dengan berinteraksi secara santun, dengan teladan
dan akhlak mulia, yang tercermin baik dalam perkataan, tindakan maupun sikap.
Bagi kyai sejati, pesantren bukanlah menara gading. Pesantren malah menjadi
sarana untuk berkarya dalam bingkai hablun minnallah wa hablum
minan nas atau membina hubungan
baik dengan Allah dan manusia. Muaranya adalah meraih rida Allah.[]
Kontributor: Alvian
Iqbal Zahasfan | Santri Ponpes Nurul Jadid Paiton-Probolinggo, Ponpes
Al-Ghazali Karangrejo-Tulung Agung, PIQ Singosari-Malang, Al-Ma’had Darus
Sunnah Al-‘Dauli li Ulumil Hadis Ciputat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar